Sabtu, 11 April 2015




Semarang, net.cj roadshow dengan mengadakan workshop yang bekerjasama dengan Badan Ekskutif Mahaasiswa fakultas ilmu komunikasi universitas islam sultan agung pada hari Jum'at (10/4/2015) di aula lt.3 fakultas tehnologi industri, acara tersebut di mulai pukul 13.00 sampai jam 17.00 WIB.

Pada acara tersebut yang menjadi pemateri yaitu Thomas Hendra selaku produser NET.CJ serta Brigadir Herlina dan Briptu Lery dari Tim NTMC 86 POLRI.

acara ini mendapat sambutan luar biasa oleh mahasiswa UNISSULA, di buktikan dengan peserta yang melebihi target, sehingga panitia kewalahan dengan peserta yang peristiwa itu meskipun Net TV sendiri belum ada di Semarang. kegiatan ini merupakan roadshow kedua di Semarang yang sebelumnya di adakan di UNDIP.

kegiatan ini sangat banyak manfaatnya bagi calon CJ yang ada di semarang, mereka di berikan sebua materi tentang Citizen Jurnalist dan manfaat menjadi CJ bagi masyarakan luar, kemudian bisa menjadi media untuk menyampaikan kritik tentang pemerintahan atau suatu hal yang tidak seharusnya seperti itu.

Rabu, 08 April 2015

      Semarang, Himpunan Mahasiswa Farmasi UNISSULA atau sering di sebut HIMAFARMA mengadakan acarah donor darah pada hari Kamis 08/04/2015 yang bertempat di lt. 1 gedung pumanisa UNISSULA. acara tersebut bertemakan vampires day yang bekerjasama dengan KSR PMI UNISSULA dan UTDC PMI Kota Semarang berlangsung sangat meriah terlihat dari para peserta yang berlomba-lomba ingin mendonorkan darahnya.
          Donor darah sendiri selain dapat membantu orang lain juga memiliki banyak manfaat bagi kita seperti melindungi jantung, menurungkan resiko terkena kanker, membantu menurunkaan level zat besi dalam darah, pembaharuan sel-sel darah dan masih banyak manfaat lainnya.
          Acara donor darah berlangsung dari jam 09.00 WIB sampai 11.30 WIB dan mendapatkan sekitar 40 kantong darah.

Sabtu, 04 April 2015




Jurnalisme warga yang sering diartikan sebagai berita yang dikirim untuk media oleh warga biasa tanpa latar belakang jurnalisme merupakan konsep yang berbeda dengan public journalism/jurnalisme publik. Jurnalisme publik, yang sering dipakai bergantian dengan civic journalism, pada dasarnya dikembangkan oleh wartawan profesional menyikapi meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap media dan kesinisan publik terhadap politik di Amerika Serikat sekitar tahun 1988. Kritik pedas terhadap standar dan arogansi media membawa media berpikir tentang fungsi dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat dan bagaimana wartawan lebih responsif dengan masalah yang menjadiperhatian masyarakat, inilah yang dikenal sebagai jurnalisme publik. jurnalisme warga ini lebih dikenal dan populer melalui medium internet. Outing (2005) membuat kategori jurnalisme warga yang ada di situs internet sebagai berikut:
1.       Situs internet mengundang komentar dari masyarakat. Pembaca diperbolehkan untuk bereaksi, mengkritik, memuji atau memberi tambahan ke berita yang ditulis oleh wartawan professional. Berita tambahan dan foto dari pembaca yang disandingkan dengan berita utama dari wartawan professional juga bisa dipakai.
2.       Liputan dengan sumber terbuka dimana reporter professional bekerja sama dengan pembaca yang tahu tentang suatu masalah. Berita tetap ditulis oleh reporter professional.
3.       Rumah blog. Situs internet yang mengundang pembaca untuk menampilkan blognya.
4.        Situs internet publik teredit dan tidak teredit dengan berita dari publik.
5.       Situs “reporter pro+warga” berita dari reporter profesional diperlakukan sama dengan berita dari publik. Ohmynews masuk dalam kategori ini.
6.       Wiki-jurnalisme yang menempatkanpembaca sebagai editor.
Blog dan situs web interaktif seperti situs jurnalisme warga terpopuler Ohmynews (www.ohmynews.com) di Korea Selatan yang berdiri tahun 2000 dan kini punya 40.000 reporter  arga dan 70 wartawan profesional adalah beberapa bentuk jurnalisme warga di internet. Jurnalisme warga Ohmynews berkembang pesat karena masyarakat Korea Selatan memerlukan media alternatif di tengah kuatnya kontrol tidak langsung dari pemerintah terhadap media meski kebebasan pers sudah ada. Di samping itu, masyarakat Korea Selatan juga sudah akrab dengan internet yaitu sekitar 30 juta atau 2/3 penduduknya terhubungkan dengan internet berkecepatan tinggi seperti yang tercantum dalam The National Internet Development Agency of Korea – NIDA di http://www.nic.or.kr/english (2004). Di Indonesia, jurnalisme warga ini justru berawal dari stasiun radio Elshinta sejak tahun 2000, dan hingga kini Elshinta punya 100.000 reporter warga. Namun, mainstream media lain seperti stasiun TV, media cetak, website di Indonesia terlihat masih enggan untuk mengadopsi jurnalisme warga dalam praktik jurnalisme mereka karena takut kehilangan kredibilitas, reputasi dan problem etika jurnalistik. Studi ini mencoba membedah faktor internal dan eksternal terhadap keberhasilan Elshinta serta apa yang membuat editor di Elshinta bereksperimen dengan jurnalisme warga. Ohmynews di Korea Selatan dipakai sebagai kerangka acuan untuk melihat relevansi keberhasilannya dengan Elshinta. Pertanyaan yang ingin diuji dalam studi ini adalah:
1.       Apa yang memotivasi pendengar di Indonesia untuk secara sukarela mengirim berita ke stasiun radio?
2.        Mengapa media cetak dan situs online di Indonesia terkesan enggan mengadopsi jurnalisme warga?
3.       Apa keuntungan dan kerugian menerapkan jurnalisme warga bagi mainstream media?
4.        Apa yang dapat diadopsi dan disaring oleh media lain di Indonesia dari pengalaman Ohmynews dan Elshinta?
Studi ini tidak akan menjelaskan sejarah Ohmynews dansi tuasi pers di Korea Selatan, karena Ohmynews akan dipakai sebagai titik pembelajaran terhadap pengembangan jurnalisme warga secara online di Indonesia.
Kompasiana adalah blog jurnalis Kompas yang bertransformasi menjadi sebuah media warga (citizen media). Di sini, setiap orang dapat mewartakan peristiwa, menyampaikan pendapat dan gagasan serta menyalurkan aspirasi dalam bentuk tulisan, gambar ataupun rekaman audio dan video.
Kompasiana menampung beragam konten dari semua lapisan masyarakat dari beragam latar belakang budaya, hobi, profesi dan kompetensi. Kompasiana juga melibatkan kalangan jurnalis Kompas Gramedia dan para tokoh masyarakat, pengamat serta pakar dari berbagai bidang, keahlian dan disiplin ilmu untuk ikut berbagi informasi, pendapat dan gagasan.
Di Kompasiana, setiap orang didorong menjadi seorang pewarta warga yang, atas nama dirinya sendiri, melaporkan peristiwa yang dialami atau terjadi di sekitarnya. Keterlibatan aktif warga ini diharapkan dapat mempercepat arus informasi dan memperkuat pondasi demokratisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tren jurnalisme warga seperti ini sudah mewabah di banyak negara maju sebagai konsekuensi dari lahirnya web 2.0 yang memungkinkan masyarakat pengguna internet (netizen) menempatkan dan menayangkan konten dalam bentuk teks, foto dan video.
Kompasianer (sebutan untuk orang-orang yang beraktifitas di Kompasiana) juga dapat menyampaikan gagasan, pendapat, ulasan maupun tanggapan sepanjang tidak melanggar ketentuan yang berlaku. Setiap konten yang tayang di Kompasiana menjadi tanggungjawab Kompasianer yang menempatkannya.
Selain itu, Kompasiana menyediakan ruang interaksi dan komunikasi antar-anggota. Setiap Kompasianer bisa menjalin pertemanan dengan Kompasianer lain. Mereka juga dapat berkomunikasi lewat email, komentar dan fitur interaktif lainnya.
Fasilitas dan fitur Kompasiana hanya bisa digunakan oleh pengguna internet yang telah melakukan registrasi di www.kompasiana.com/registrasi. Begitu proses registrasi selesai, pengguna akan mendapatkan blog pribadi. Tanpa registrasi, pengguna hanya bisa membaca konten Kompasiana.
Dengan beragam fitur dan fasilitas interaktif tersebut, Kompasiana yang mengusung semangat berbagi dan saling terhubung (sharing. connecting.) telah menjadi sebuah Media Sosial.
dari kasus diatas, saya berpedapat bahwa tidak setuju dengan adanya jurnalisme warga karena banyak jurnalis warga tidak mengerti tentang aturan-aturan tentang jurnalistik, sehingga ketika membuat suatu berita, mereka hanya menlis sesuai dengan apa yang ada di pikirannya, di lihat tanpa mematuhi etika penulisan jurnalistik.
 

Semarang, (04/06/15). pertandingan antara tim basketball Universitas Diponegoro vs universitas semarang yang berlangsung di gor sahabat dalam lombah piala rektor USM basketball 2015 di menangkan oleh undipdengan skor 66-57

semarang, (04/04/15) Open Ceremony Piala Rektor Universitas Semarang Basketball 2015 yang bertempat di Gor Sahabat

Kamis, 26 Maret 2015

Semarang, 20/04/2015 akibat hujan deras yang terjadi di kabupaten semarang,air kiriman yang di sungai yang terletak di kecamatan genuk meluap kepemukiman warga, terjadi sekitar jam 22.00 WIB para warga terlihat panik dengan peristiwa tersebut.
ketinggian genangan air sekitar 50 cm di beberapa tempat. terlihat para warga bergotong royong mengankat pasir yang sudah di terbungkus karung ke tempat dimana meluapnya air sungai tersebut. jumlah warga bergotong royong yang sangat banyak dapat menutupi suangai yang meluap tersebut, sekitar 3 jam luapan air sudah dapat di atasi. terlihat beberapa relawan yang mengarahkan warga dalam kerja bhakti tersebut seperti BPBD kota Semarang, PMI kota Semarang, dan BASARNAS kota Semarang.

Senin, 16 Maret 2015

Perkembangan new media saat ini sangat pesat di bandingkan dengan media cetak yang semakin menurun, salah satu penelitian yang di adakan oleh SPS (Serikat Penerbit Suratkabar) melakukan sebuah penelitian bertajuk masa depan media cetak di Indonesia, pada 23-29 Juni 2010 melibatkan 2.971 responden. Mayoritas responden membeli surat kabar secara eceran 64,2%, disusul majalah 24,5% dan tabloid 20%.
Kemudian dari tahun ke tahun tren harga berlangganan media cetak terus merangkak naik, nyaris tak pernah ada penurunan harga. Sehingga koran melakukan strategi ‘Koran seceng’ atau koran seribu rupiah untuk mengatasi koran baru di pasar.
Kemudian sebanyak 91,4% responden membaca koran daerah sedangkan untuk koran nasional hanya 8,6%. Karena segmen pembaca surat kabar nasional di Indonesia umumnya adalah masyarakat yang berlatar belakang sosial ekonomi status menengah ke atas, dengan tingkat pendidikan yang semakin tinggi. Pembaca koran daerah, latar perbandingan lurus dengan populasi penduduk yang memiliki sosial ekonomi status menengah ke bawah dan tingkat pendidikan rendah.
Untuk saat ini dengan hadirnya media online dengan penetrasi browser yang meningkat, media cetak mengalami penurunan tajam dalam hal penetrasi (menerobos) pembaca, billing iklan media cetak yang dimonitor Neilson Indonesia justru meningkat pesat. Pada tahun 2009, market share iklan media cetak tumbuh 23%, dengan volume Rp 8,2 triliun.
Lalu apa yang harus dilakukan media cetak di zaman digital ini? Ika Jatmikasari Associate Director Neilson Media Indonesia menyarankan delapan langkah strategi (2009):
  1.  Membangung kanal internet dan melakukan reportase dalam beragam platform. Mengutip Jay Rosen seorang profesor jurnalism dalam New York University saat ini reporter koran harus mampu menulis atau melaporkan berita dari berbagai platform. Dan bukan cuma dari satu platform saja. Mengapa harus demikian?pasalnya teknologi telah mengubah cara orang dalam mengkonsumsi berita. Banyak diantara konsumen memang masih memperoleh informasi melalui media cetak. Namun banyak pula diantara konsumen yang telah berpindah untuk mendapatkan informasi melalui berbagai media sekaligus, seperti televisi, telepon seluler dan internet.
  2. Menjadi niche media, model media massa tidak lagi bisa bekerja sebagai model internet, dan kini semakin banyak orang menemukan subjek dan bidang spesifik yang lebih menarik melalui internet.
  3. Integrasi laporan yang real-time. Jaringan sosial media (facebook, twitter,dll) telah menuntut audience untuk menyampaikan berita yang mereka buat sendiri. Koran dapat menggunakan media sosial ini untuk menyampaikan berita hangat tiap hari.
  4. Mendorong inovasi.
  5. Berinvestasi di bidang modal device. Lebih banyak orang ini mengunakan telfon pintar dan memanfaatkannya untuk saling berkoneksi. Dari hal inilah, terdapat potensial pendapatan yang bisa diperoleh. Media bisa mengutip kepada setiap pelanggan yang mengunduh aplikasi dari media tersebut, seperti halnya ketika memungut kepada pelanggan koran.
  6. Berkomunikasilah dengan pembaca muda. Media sosial (facebook, twitter,dll) telah medorong orang untuk dan berkomentar terhadap apapun. Anda ingin membaca koran berkomentar atau mengirim respon terhadap apa yang ingin mereka baca ? satu hal yang perlu diperhatikan untuk membuat publik menilai sebuah koran adalah ketika koran itu memberikan “nilai” (value) kepada publik. Media harus berinteraksi dengan publik.
  7. Membangun komunitas. Surat kabar (dan versi web mereka) terlalu sederhana untuk diharapkan sekedar menyampaikan informasi. Media juga harus menciptakan komunitas. Manfaatkanlah media sosial untuk membangun komunitas (koran) anda. Dengan menciptakan komunitas, anda telah menciptakan hubungan yang royal dengan para pemaca.
  8. Berlangganan atau gratis ? haruskah versi online surat kabar mengutip dari pembaca yang hendak mengaksesnya ? apa model terbaik untuk hal ini ? rupert murdoch, CEO News Corp ., mulai memungut bayaran dari pembaca untuk semua informasi dari wabsite. Mengapa ? surat kabar perlu menciptakan nilai bagi pembacanya. Dan menyediakan layanan yang orang mau untuk membayarnya !
          keunggulan yang dimiliki media cetak dalam hal dunia periklanan yaitu : 
  1.      selektif
  2.      kualitas produk 
  3.      kreativitas fleksibel
  4.      permanen prestise 
  5.      penerimaan dan lingkungan konsumen
  6.      pelayanan

      dari video di atas ada beberapa pendapat pemilik media berkata bahwa media cetak harus mengikuti perkembangan new media sekarang  Ini salah satu penelitian tentang waktu masyarakat dalam hal mengakses informasi, kita sudah dapat menyimpulkan bahwa new media telah mempengaruhi kebiasaan masyarakat dalam akses informasi. Menurut salah seorang pakar Ilmu komunikasi Van Dijk menyatakan bahwa salah satu bagian dari New Media adalah “Network Society”. “Network society” adalah formasi sosial yang berinfrastuktur dari kelompok, organisasi dan komunitas massa yang menegaskan bentuk awal dari organisasi dari segala segi (individu, grup, organisasi, dan kelompok sosial).
      di bawah ini adalah statistik perkembangan new media dan media cetak dari hasil survey Nielsen Media 2011.
     
      Dari data di atas menunjukkan kepada kita bagaimana telah terjadi perubahan yang menarik antara pembaca koran dengan pengguna Internet. Kita bisa melihat bahwa pembaca media cetak semakin menurun sejak tahun 2005. Sebaliknya, pengguna internet prosentasenya semakin lama semakin meningkat. 
      Data di atas tidak jauh berbeda dengan data dari Internet World Stats, dalam satu dasawarsa terakhir jumlah pengguna internet (netter) di dunia meningkat drastis. Dari 0.4% pengguna dari seluruh penduduk dunia di tahun 1995, kini naik hampir 60 kali lipat pada 2008. Dan sejak tahun 2000, pertumbuhan netter dunia naik rata-rata 2% terhadap total populasi dunia. 
      media cetak akan bertahan ketika dia selalu mengeluarkan sesuatu hal yang baru dan menjaga kepercayaan masyarakat.